One Stop Wedding Services.

Ada Beberapa Pilihan Yang Baik Untuk Anda, Silahkan Menentukan Pilihan Yang Terbaik.

Main Posts Background Image

Main Posts Background Image

Sabtu, 22 Desember 2018

5 Tekhnik Persalinan Aman Untuk Ibu.


Pernikahan adalah cara manusiawi untuk meneruskan keturunan. Ibu adalah pahlawan bagi regenerasi umat manusia.
Setiap Anak adalah anugerah dari Sang Pencipta, Anugerah tak terhingga yang membuat para orang tua mendamba. Tak jarang untuk sekian lama, karena itu kelahiran yang menjadi awal langkahnya ke dunia pun dipersiapkan dengan begitu rupa, agar ibu serta bayinya selamat dan sehat sejahtera.

Bagaimana membuat persalinan aman?

Kehadiran anak dalam sebuah keluarga pastinya akan menambah kebahagiaan dan merupakan impian bagi semua orangtua. Anak adalah pewaris orangtua, yang kelak akan menjadi penerus bagi generasi selanjutnya. Ibu sebagai sosok yang mengandung akan melahirkan anak, tentu memiliki harapan dan yang teramat besar pada anaknya, dan seorang ibu pula harus melahirkan anaknya ke dunia mellui persalinan.

Melahirkan boleh jadi merupakan peristiwa yang alami dan biasa bagi sebagian kelangan. namun bai yang mengalaminya, apalagi untuk pertama kalina, adalah suatu hal yang sangat luar biasa. kerap kali bayangan akan sakitnya proses persalinan sudah menari-nari di benak para ibu yang akan segera melahirkan.

Berbicara soal persalinan, ada banyak cara, tekhnik yang bisa dipilih oleh seorang ibu untuk melahirkan anaknya. Tekhnik yang bermacam-macam ini tentunya disesuaikan dengan kebutuhan, misalnya jika kondisi ibu yang lemah, maka sebaiknya memilih metode persalinan yang tidak membahayakan sang ibu dan janin yang dikandungnya. Persalinan yang palig diinginkan oleh sebagian besar para ibu adalah persalinan normal, tetapi bila sang ibu merasa khawatir dengan rasa sakit yang akan dideritanya sepanjang proses melahirkan dan kondisinya juga lemah, maka sebaknya mengambil alternatif metode melhirkan yang lain. Saat ini ada banyak metode persalinan yang sudah diterapkan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Pada dasarnya, apapun jenis atau metode persalinan yang dipilih, sebaiknya berdasarkan atas kebutuhan, situasi dan permintaan dari ibu yang melhirkan. Agar lebih jelas apa saja pilihannya, simak lebih lanjut permbahasannya di sini:

1. Persalinan Normal Tanpa Alat.

Inilah jenis persalinan yang menjadi dambaan banyak ibu. Bahkan sampai ada anggapan bahwa seorang ibu belum dianggap ibu sejati jika belum pernal melahirkan secara normal. Jenispersalinan normal dilakukan tanpa menggunakan alat bantu apapun. Dalam persalinan ini, bayi lahir melalui vagina dengan bagian kepala bayi menghadap ke arah luar, tanpa memakai alat bantu dan tidak melukai ibu maupun bayi. Proses melahirkan berbeda-beda, namun biasanya memakan waktu kurang dari 24 jam.

Agar persalinan jenis ini bisa terlaksana, dibutuhkan tiga faktor penting, yakni kekuatan ibu saat mengejan, keadaan jalan lahir dan keadaan janin yang ada dalam kandungan. Ketiganya harus dalam keadaan baik, sehinga bayi dapat dilahirkan dengan selamat. Dengan adanya kekuatan mengejan ibu, janin dapat didorong ke bawah, dan masuk ke rongga panggul. Saat kepala janin memasuki ruang panggul, posisi kepala sedikit menekuk, sehingga dagu dekat dengan dada janin. Posisi inilah yang akan memudahkan kepala janin lolos melalui jalan lahir, yang diikuti dengan beberapa gerakan selanjutnya. Setelah kepala keluar, biasanya bagian tubuh janin yang alain akan mengikuti, mulai dari bahu, badan, dan kedua kaki. Umumnya para ibu yang memilih persalinan normal akan melalui tiga tahapan, yakni,: kontraksi, mendoronb bayi dan menunggu plasenta keluar dari rahim, umumnya sekitar 5 - 10 menit. Namun ada juga yang memakan waktu hingga setengah jam.

2. Ekstrasi Vakum.

Jenis persalinan ini sebenarnya masih tergolong sebagai persalinan normal, hanya saja dibantu dengan alat berupa vakum atau ekstrasi vakum. Jadi dengan alat pengisap berbendutk cup inilah bayi ditarik keluar secara lembut dan perlahan. Cara kerjanya hampir seperti vacuum cleaner, namun prosesnya tentu lebih manusiawi. Cara penggunaan vakum adalah dengan meletakkan vakum di atas kepala bayi yang menghubungkan mangkuk dengan mesin. Alat ini menggunakan tenaga pompa atau listrik. Vakum hanya akan dilakukan jika terdapat bebarapa kemungkinan buruk, diantaranya:
  1. Bila proses melahirkan membahayakan kesehatan serta nyawa ibu dan anak.
  2. Proses persalinan berlangsung lama, sehingga ibu menjadi kehabisan tenaga.
  3. Ibu mengalami ipertensi (preklamsia),
  4. Kondisi gawat janin yang ditandai denyut jantung janin lebih dari 160 kali per menit atau melambat mencapai 80 kali per menit (sehingga bayi kekurangan oksigen atau hipoksia).

Hal yang perlu diperhatikan adalah, pada saat menggunakan vakum, seorang itu tidak boleh mengejan terlalu kuat, karena hal ini dapat memicu hipertensi dan membahayakan jia sang ibu. Umumnya persalinan menggunakan vakum membutuhkan waktu lebih 45 menit secara keseluruhan.

Proses persalinan dengan vakum baru dapat dilakukan bila memenuhi bebrapa syarat, yakni: panggul ibu tidak sempit, artinya dapat dilewati oleh janin, janin tidak terlalu besar, pembukaan sudah lengkap, dan kepala janin sudah memasuki dasar panggul ibu. Jika sarat tersebut tidak terpenuhi, misalnya janin terlalu besar atau kelapa janin masih terletak tinggi di dalam panggul, maka proses vakum tidak dilakukan dan operasi seksio caesaria adalah pilihannya.

Efek samping dari persalinan dengan vakum adalah terjadinya perlukaan yang lebih luas pada jalan lahir, juga pendarahaan di jalan lahir. Sedangkan pada bayi, resiko vakum secara umum adalah terjadinya luka atau lecet pada kulit kepala. Namun tidak perlu khawatir, hal ini dapat diobati dengan obat anti septik. Kondisi ini biasanya akan hilang sendiri setelah usia bayi seminggu. Resiko lain yang lebih berat adalah: terjadinya pendarahan di antara tulang-tulang kepala (cephal hematome), atau bisa juga terjadi pendarahan dalam otak.

3. Persalinan dengan Alat Bantu Forsep.

. Persalinan dengan bantuan alat berupa forsep ini dilakukan apabila persalinan mengalami kesulitan akibat kodisi ibu yang tidak prima, misalnya terkena serangan jantung, asma, atau keracunan kehamilan atau kondisi lain yang dapat membahayakan nyawa ibu dan anak. Forsep adalah alat bantu persalinan yang terbuat dari logam menyerupai sendok. Metode forsep dilakukan pada ibu yang kondisinya lemah, tidak ada tenaga, atau ibu dengan penyakit hipertensi sehingga yang tidak boleh mengejan. BEgitu pla jika terjadi gawat janin, ketika janin kekurangan oksigen, dan harus segera dikeluarkan. Apabila persalinan yang dibantu forsep telah dilakukan dan tetap tidak bisa mengeluarkan bayi, maka operasi caesar harus segera dilakukan.

Persalinan dengan forsep relatif lebih beresiko dan lebih sulit dilakukan dibandingkan dengan vakum. Persalinan dengan forsep ini dapat dilakukan meskipun ibu tidak mengejan. Caranya dengan meletakkan forsep di antara kepala bayi dan memastikan itu terkunci dengan benar, artinya kepala baayi dicengkram kuat dengan forsep. Kemudian forsep akan ditarik keluar, sehingga ibu tidak perlu mengejan terlalu kuat. Persalinan forsep biasanya membutuhkan sayatan pada bagian jalan lahira tau robeknya rahim (rupture uteri).

Selain adanya resiko luka sayatan pada ibu, forsep juga memiliki risiko pada bayi, yakni: menyebabkan kerusakan syaraf ke-tujuh (nervus fasialis), luka pada wajah dan kepala serta patah tulang wajah dan tengkorak. Jika semua resiko atau kemungkinan itu terjadi, maka bayi harus diawasi dengan ketat selama beberapa hari. Tergantung derajat keparahannya, namun yang pasti, luka tersebut bisa pulih kembali.

4. Persalinan Dalam Air.

Melahirkan di dalam air atau water birth mulai populer di Eropa, terutama Rusia dan Prancis pada tahun 1970-an. Tujuannya saat itu adalah untuk memudahkan lahirnya bayi. Melahirkan dalam air ternyata dapat mengurangi rasa sakit pada ibu. Idenya berawal dari pemikiran bahwa janin yang selama sembilan bulan berenag dalam air ketuban dapat lebih nyaman memasuki dunia baru yang juga air. Setelah itu bayi akan bernafas dan menghirup udara.

Sebenarnya proses dan melahirkan dalam air sama saja dengan melahirkan normal, hanya tempatnya saja yang berbeda. Proses kelahiran dilakukan di dalam kolam cukup besar (berukuran 2 meter) yang terbuat dari plastik atau bath tube dengan benjolan-benjolan yang alasnya, agar posisi ibu tidak merosot. Selain kolam plastik, fasilitas pendukung lainnya adalah pompa pengatur air agar tetap bersirkulasi, pengatur suhu (water heater) untuk menjaga air tetap hangat, serta termometer untuk mengukur suhu. Kolam yang sudah disterilisasi kemudian diisi air yang shunya disesuaikan dengan suhu tubuh, yaitu sekitar 36 - 37 derajat Celcius. Ini bertujuan agar bayi tidak merasakan perbedaan suhu yang ekstreem antara di dalam perut dan di luar, serta agar bayi tidak mengalami hipotermia. Selanjunya ibu mengejan seperti biasa.

Mengingat tempatnya yang berada di dalam air, bayi yang baru keluar otomatis akan beendam dulu selama beberapa saat di dalam air (sekitar 5 - 10 detik). Ini tidak menjadi masalah, karena suhu air hampir sama dengan suhu cairan ketuban tempat bayi "berenang" sebelum dilahirkan. Itu sebabnya keika bayi baru keluar, bayi tidak menangis, mungkin ia merasa seolah seperti belum lahir, karena kondisinya sama antara di dalam perut dan di luar. Melahirkan di dalam air memiliki banyak manfaat bagi ibu dan bayi. Para pakar kesehatan di bidang ginekologi sendiri mengakui bahwa melahirkan di dalam air memiliki kelebihan dibanding metode melahirkan lain, yakni:
  1. Ibu akan merasa rikeks, karena semua otot yang berkaitan dengan persalinan menjadi lebih elastis.
  2. Metode ini juga akan mempermudah proses mengejan, sehingga rasa nyeri selama persalinan tidak terlalu dirasakan.
  3. Di dalam air proses pembukaan jalan lahir akan berjalan lebih cepat.
  4. Menurunnya resiko cidera kepala bayi.
  5. Peredaran darah bayi akan lebih baik, sehingga tubuh bayi akan cepat memerah setelah dilahirkan.
Namun dalam melakukan persalinan di dalam air harus tetap dalam pengawasan medis,dan harus berkonsultasi terlebih dahulu sebelum melakukannya. hal ini karena ada beberapa resiko pada water birth, misalnya ada komplikasi pada paru, karena kadang bayi kesulitan bernafas ketika berada dalam air. Maka jika ingin melahirkan dalam air, ibu harus dulu berkonsultasi dengan dokter. Seorang ibu tidak boleh melahirkan di dalam air bila: ibu sedang dalam perawatan medis, ibu memiliki penyakit herpes, panggul ibu kecil, dan bayi sungsang atau melintang.

5. Operasi Caesar.

Persalinan Caesar atau bedah sesar adalah jenis pesalinan yang menjadi solusi teakhir apabila proses persalinan normal dan penggunaan alat bantu tidak lagi bisa dilakukan untuk mengeluarkan janin dalam kandungan. Meski begitu, saat ini banyak yang memang sudah merencanakan persalinan caesar jauh-jauh hari, sebelum HPL (Hari Perkiraan Lahir), karena memang tidak ingin merasakan sakitnya proses melihrkan atau memang mengalami kodisi tertentu (ketuban bocor, bayi sungsang, persalinan bayi kembar atau terjadi komplikasi persalinan lainnya).

Bedah sesar adalah proses mengeluarkan janin dengan cara merobek perut dan rahim, sehingga memungkinkan dilakukan pengambinan janin langsung dari robekan tersebut Operasi caesar biasanya dilakukan oleh dua orang dokter (dokter ahli obstetri dan dokter asisten). Ketika bayi sudah dikeluarkan, maka tali pusat dijepit dan dipotong, lalu plasenta dikeluarkan, dan raim ibu hamil diperiksa secara meneluruh. Total waktu yang dibutuhkan untuk bedah sesar sekitar 60 menit, namun untuk ibu hamil yang pernah melakukan operasi caesar sebelumnya, maka akan membutuhkan waktu lebih lama lagi.