Jasa Catering Murah Untuk Pernikahan di Jakarta.

Catering Murah Jakarta

Jasa Catering Untuk Resepsi Pernikahan di Gedung, Catering Pernikahan di Rumah, Catering Sunatan, Catering Syukuran, Catering Aqikah, Buffe Prasmanan Untuk Berbagai Acara...

View More

Jasa Paket Wedding Outdoor Party di Jakarta.

Paket Pernikahan Nasional

Sebagai Vendor Wedding Package, Kami Siap Provide Acara Pernikahan Outdoor Atau Taman. Dekorasi Rustic dan Dekorasi Outdoor Menjadi Pilihan Yang Sangat Cocok.

View More

Catering Prasmanan.

Menu Catering Prasmanan

Jasa Catering Pernikahan di Jakarta dan Paket Pernikahan Lengkap dan Murah. Kami Bersedia Untuk Acara Jabotabek, Jakarta, Bekasi Tangerang dan Bogor Menu Masakan Kami Sangat Variatif, Enak, dan Halal.

View More

Paket Pernikahan Tema Internasional Murah.

Paket Wedding Internasional

Dewi's Wedding Mengerjakan Pernikahan Aneka Pernikahan, Termasuk Tema Internasional Dengan Menawarkan Paket Wedding Internasional Dengan Harga Terjangkau.

View More

Paket Pernikahan Lengkap dan Murah Acara di Rumah

Paket Pernikahan di Rumah

Paket Wedding Lengkap di Rumah Termasuk Catering Prasmanan, Food Stall, Dekorasi Pelaminan, Rias Busana, Dokumentasi, Entertain, Tenda, Peralatan Pesta...

View More

Jasa Dekorasi Pernikahan di Gedung.

Dekorasi Pernikahan

Vendor Dekorasi Pernikahan di Gedung di Aula dan di Rumah, Melayani Pemasangan di Jakarta dan Bekasi. Kami Memiliki Aneka Pelaminan Adat, Rustic, Modern, Bisa Custom..

View More

Catering Pernikahan Murah di Jakarta.

Catering Pernikahan Murah di Jakarta.
Jasa Catering Pernikahan.

Dekorasi Pernikahan Taman, Outdoor, Rustic Jakarta.

Dekorasi Pernikahan Taman, Outdoor, Rustic Jakarta.
Dekorasi Outdoor.

Jasa Paket Pernikahan Lengkap

Jasa Paket Pernikahan Lengkap
Pernikahan Internasional.

Dekorasi Pernikahan di Rumah, Vendor Dekorasi Adat Jawa.

Dekorasi Pernikahan di Rumah, Vendor Dekorasi Adat Jawa.
Pelaminan Gebyok.

Dekorasi Pernikahan Modern di Gedung.

Dekorasi Pernikahan Modern di Gedung.
Dekorasi Modern

Catering Jakarta Bekasi

Catering Services

Jasa Catering Murah Jakarta untuk Pernikahan di Gedung,di rumah, Katering Sunatan, Katering Prasmanan Untuk Segala Acara.

Vendor Dekorasi Pernikahan di Gedung

Dekorasi Pelaminan

Kami mengerjakan dekorasi pernikahan di gedung, dekorasi akad dan resepsi di rumah, dekorasi ulang tahun, backdrop dan sidewall.

Paket Pernikahan Lengkap di Jakarta dan Bekasi

Busana & Rias

Busana dan Rias Pengantin termasuk dalam Paket Pernikahan, kami juga melayani Paket Rias Pengantin secara terpisah, di jakarta dan bekasi.

Dekorasi Pernikahan Tenda dan Peralatan Pesta

Peralatan Pesta.

Mengerjakan pemasangan Tenda Murah Untuk acara pernikahan, ac portable, cooling fan, panggung, sound system, dan peralatan pesta.

Paket Pernikahan Lengkap di Gedung Aula dan di Rumah

Melayani Paket Pernikahan | Catering | Dekorasi di Bekasi dan Jakarta.

Backdrop

Backdrop
keterangan

Harga Catering Terbaru Update 2019.

Hal Paling Penting Dalam Komunikasi Adalah Mendengarkan..

Contact Background Image

Contact Background Image

Contact With Us

Recent Projects From Our Portfolio

Berikut Ini Beberapa Hasil Dokumentasi Acara Wedding. Untuk Info Lebih Mengenai Dokumentasi Siliahkan Cek Instagram Kami.

Welcome To Our Website.

Situs Resmi Dewi's Wedding Package, Vendor Paket Pernikahan Lengkap.

Vendor Tata Rias dan Tata Busana di jakarta

Vendor Tata Rias dan Tata Busana di jakarta

Nikki Boutique

- Vendor Busana -

Nikki Boutique memiliki koleksi busana pengantin adat, nasional, dan internasional, dengan koleksi yang lengkap.

D'Orion Weddings: Vendor Dekorasi Pernikahan Murah Jakarta

D'Orion Weddings: Vendor Dekorasi Pernikahan Murah Jakarta

D'Orion Wedding

- Decorations -

D'Orion Wedding Decorations Vendor Dekorasi, Jasa Dekorasi Pelaminan Untuk Pernikahan Indoor dan Outdoor.

Vendor Catering Murah di Jakarta

Vendor Catering Murah di Jakarta

Dewi's Catering

- Catering -

Dewi's Catering Merupakan Vendor Catering, Penyedia Jasa Buffe Prasmanan untuk Acara Pernikahan, dll

Vendor Fotografi dan Sinematik Untuk Pernikahan

Vendor Fotografi dan Sinematik Untuk Pernikahan

eLang Studio

- Photographer -

eLang Studio, Photographer yang sudah berpengalaman di bidangnya, mengikuti perkembangan dunia photografi, profesional.

Kamis, 13 Desember 2018

Serial Wedding Agreement Kini Jadi Novel.

Kamis, Desember 13, 2018

Setiap perempuan memiliki pernikahan impian, dan apa pun akan dilakukan untuk mewujudkan momen sakral sekali seumur hidup itu. Begitu pula Btari Hapsari. Perempuan yang biasa dipanggil Tari itu mengimpikan pesta kebun bertabur lili pada pelaminan dan meja-meja bundar bertaplak putih yang dipenuhi teman dan kerabat. Hanya orang-orang terdekat. Pesta yang intim dan hangat. Senyum bahagia terpancar dari wajah kedua mempelai karena mereka telah dipersatukan dalam ikatan yang sah. Tapi impian tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Dan Tari harus menerima walau hatinya belum rela.

"Saya terima nikah dan kawinnya Btari Hapsari binti Abiyasa Daud dengan maskawin tersebut, tunai."

"Bagaimana, saksi? Sah?"

"Sah!"

"Sah!'

"Alhamdulillah...."

Riuh seketika. Hamdalah memenuhi tiap sudut masjid.

"Ayo, Tari." Ayu, bude Tari, membantu keponakannya berdiri untuk duduk di depan bersama suaminya.

Akad nikah baru saja dilaksanakan di masjid. Pengantin pria duduk bersama wali, saksi, dan penghulu di bagian ikhwah. Sedangkan pengantin perempuan menunggu di bagian akhwat. Selesai akad, sang istri dibawa kepada si suami.

Tari menunduk saat Bude membantu berjalan ke depan. Dadanya berdebar kuat, bahkan sebelum akad nikah dimulai. Sekarang keringat dingin mulai membasahi tangan dan dahinya.

"Silakan ditandatangani," ucap penghulu saat Tari sudah duduk di samping suami. Mereka membubuhkan tanda tangan di beberapa surat-surat, termasuk buku nikah.

"Sekarang pemberian mahar," penghulu memberitahu. Tari melirik Bian, laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya itu. Bingung harus bagaimana. Tapi laki-laki itu bergeming. Tari mengalihkan pandang, menatap kotak hijau di atas meja. Maharnya. Kalung emas seberat sepuluh gram.

"Silakan pengantin berdiri," instruksi penghulu.

Pelan Tari berdiri, diikuti Bian. Untuk orang yang baru saja menikah, wajah laki-laki itu tidak menunjukkan kebahagiaan. Datar. Sedatar hatinya untuk sang istri.

Bian mengambil kotak hijau dan menyerahkannya kepada Tari. Perempuan itu menerima dan berusaha menghadirkan senyum di wajah saat beberapa fotografer mengambil gambar.

"Dibuka kotaknya, Mbak," sahut fotografer.

Tari mengikuti perintah, membuka dan memperlihatkan isi kotak kepada mereka.

"Masnya juga pegang." Kembali fotografer memberi instruksi.

Enggan Bian mengikuti permintaan.

"Senyum." Bian menarik sedikit sudut bibirnya. Dia tidak bisa tersenyum saat hatinya tidak menginginkan semua ini. Sekilas ia melihat istrinya yang berbalut gamis putih gading dengan kerudung senada. Bagaimana perempuan itu bisa tersenyum seolah bahagia, padahal mereka menikah karena terpaksa? batin Bian. "Cincinnya." Penghulu meminta pengantin tetap berdiri dan memasang cincin ke jari pasangan. Bian mengambil kotak lain di meja dan mengeluarkan cincin dengan ukuran yang lebih kecil. Ia meraih tangan istrinya untuk memasangkan cincin itu di jari manis. Tari melakukan hal yang sama untuk suaminya. Sama sekali tidak ada getaran di antara mereka. "Salam sama suaminya," ucap penghulu. Tari mendongak menatap suaminya. Sambil menarik napas pelan, ia meraih tangan Bian dan membawanya ke dahi. Tidak ada kecupan di kening dari laki-laki itu untuk sang istri.

"Kamu bukan perusak rumah tangga. Perempuan itu yang merusak rencana pernikahan kita," sahut Bian kesal. Kalau saja Tari tidak pernah datang dalam kehidupannya, tentu saat ini dia dan Sarah sudah menikah.

"Aku sudah melepaskanmu. Aku tidak ingin menjadi orang ketiga."

Bian meraih tangan Sarah di meja dan meremasnya pelan. Ditatapnya mata perempuan yang telah bersamanya selama dua tahun itu. "Apakah kamu masih mencintaiku?"

Sarah tidak menjawab. Dia menolak menatap laki-laki itu. "A-aku .... "

"Look at me, Sarah," panggil Bian lembut. "Look at me, please .... "

Sarah mengalah. Dia menatap Bian dan melihat kesungguhan di mata laki-laki itu.

"Aku tahu kamu masih mencintaiku, ya, kan?" ucap Bian penuh keyakinan. Tidak semudah itu Sarah melupakannya. Mereka sudah berhubungan lama, mereka saling mencintai. Bian berniat menikahi Sarah, kalau saja mamanya tidak menjodohkan dirinya dengan Tari.

Perempuan itu ragu, tapi hatinya tidak bisa dibohongi. Dia memang masih mencintai Bian, sepenuh hatinya. Sarah hancur saat laki-laki itu menikahi perempuan lain. Walau dia tahu itu karena terpaksa.

"Answer me ..., " pinta Bian lembut. "Please .... "

Sarah mengalah. Dia sudah lelah melawan perasaannya sendiri. Tidak pernah hatinya melupakan Bian. Sedetik pun. Perempuan itu mengangguk pelan. "Aku akan menunggumu," bisiknya.

Bian tersenyum senang. Dia akan berjuang untuk bisa lepas dari Tari agar dapat mewujudkan keinginannya menikahi Sarah.

"Tunggu aku. Hanya satu tahun. Tidak lama," janji Bian.

Sarah kembali mengangguk. Cinta membutakan, tidak tahu lagi mana yang benar dan salah. Asalkan tidak ada yang menghalangi jalan mereka untuk bersatu.

Lamunan Bian terhenti saat mendengar suara benda jatuh.

"Maaf," ucap Tari seraya mengambil ponselnya yang jatuh. Hatinya kembali terasa perih mendengar ucapan suaminya barusan.

"Aku mau tidur." Bian melangkahkan kaki menuju tangga. "Tidak perlu menyiapkan sarapan lagi besok."

Mata perempuan itu terasa hangat. Dia mengikuti punggung suaminya yang menghilang di balik pintu saat laki-laki itu masuk ke kamar.

Tari menarik napas panjang seraya menyeka pipinya yang basah. Bodoh! Sudah tahu Bian akan mengabaikan, tetap saja dia berlaku sebagai istri yang patuh. Meyiapkan segala keperluan suaminya, walau laki-laki itu tidak pernah peduli.

Sampai kapan dia akan bertahan?

****

Tari meletakkan piring berisi nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya, ditemani segelas teh tawar hangat.

"Kamu masuk ke kamarku?" tuduh Bian seraya menuruni anak tangga. Dia menatap istrinya dengan tidak suka. Berani sekali perempuan itu masuk ke kamarnya. Jelas-jelas Bian sudah melarang Tari masuk ke area pribadinya.

Tari tergagap. Dia memang masuk ke kamar suaminya, tapi hanya untuk mengambil pakaian kotor dan ... sedikit bersih-bersih. Dia tidak tahan melihat tempat tidur dan meja kerja yang berantakan, jadi mengambil inisiatif untuk membersihkan. "Ma-maaf. Bu Darmi tidak masuk lagi kemarin. A-aku hanya mengambil pakaian kotor dan .... "

"Sudah kubilang tidak usah mengurusi urusanku," suara Bian meninggi.

Tari berjengit. Tidak pernah ada laki-laki yang menaikkan suara padanya, bahkan Pakde.

Bian mendesah kesal saat melihat istrinya bergeming. "Kalau Bu Darmi masih belum masuk, telepon jasa cleaning service. Sudah kubilang, aku tidak mau berutang padamu," tegas Bian. Setelah mengatakan itu dia meninggalkan istrinya, menuju teras.

Tari tidak mengikuti suaminya kali ini. Dia hanya memandang Bian sampai menghilang. Tidak lama terdengar suara mobil dinyalakan. Perempuan itu melangkah ke depan, mobil suaminya sudah tidak ada saat dia sampai di teras.

Tari menutup pagar seperti biasa dan masuk ke rumah lalu mengunci pintu. Dengan langkah gontai ia menuju sofa dan mengempaskan tubuh di sana. Rasanya kesabarannya sudah habis.

Ponselnya berbunyi. Tari melihat layar. Ami.

"Halo ..., " sapanya tidak bersemangat.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam," jawab Tari.

"Lemes aja, Bu," canda Ami.

"Tahu, deh."

"Kenapa? Laki lo bikin ulah lagi?"

Sahabatnya itu memang tahu kondisi sebenarnya pernikahan Tari dan Bian. Perempuan itu menjadikan Ami sebagai tempat curhatnya.

"Ngapain lagi dia kali ini?" tanya Ami ikut kesal.

Tari mendesah. "Tahu deh. Kayaknya gue udah capek ngadepin dia."

"Lagian, udah gue bilang, lo aja masih ngeyel."

"Apa gue ikutin aja maunya dia?"

"Maksud lo? Pisah?"

"Bukan. Kesepakatan yang pernah dia buat."

"Kan gue udah bilang dari dulu. Kalau dia maunya begitu, ya udah."

"Tapi gue merasa jadi istri durhaka."

"Ya ampun, Tari. Justru dia suami durhaka. Apa pernah dia peduli sama lo?"

Tari menarik napas dan mengembuskan pelan. Suaminya tidak pernah peduli padanya.

"Udah, ikutin aja maunya gimana. Justru dengan begitu lo jadi istri yang patuh pada perintah suami. Bukannya dia nyuruh lo untuk ngurusin urusan lo sendiri, dan nggak ngurusin urusan dia? Ya udah."

Tari ragu. Apa iya seperti itu? Tapi dia juga lelah. Bian tidak pernah menghargai usahanya sebagai istri.

"Ya udah. Gue coba deh."

"Nah, gitu dong."

Tari kembali mendesah. Mudah-mudahan keputusan yang diambilnya benar. Kalau Bian mau istrinya tidak peduli, maka itu yang akan Tari lakukan. Besok dia akan memulainya.

*****

Jeng jeng .... Tari mulai beraksi. Kira-kira tega nggak, ya, Tari sama suaminya?

Bian terbangun saat mendengar bunyi alarm ponselnya. Dia berusaha membuka kelopak mata yang terasa berat. Semalam dia pulang sangat larut, bosnya tiba-tiba memberikan hitungan proyek yang baru dan harus diselesaikan malam itu juga. Laki-laki itu tidak punya pilihan selain lembur.

Pekerjaannya sebagai engineer di perusahaan kontraktor begitu menyita dan tidak kenal waktu. Bahkan saat akhir pekan sekalipun harus masuk. Tapi Bian berusaha menjalani semua prosesnya. Dia yakin suatu saat bisa menduduki jabatan manajer di perusahaan itu.

Laki-laki itu meraih ponsel dan mematikan alarm. Pelan ia bangkit duduk dan , kepalanya terasa berat akibat kurang tidur. Tidak lama dia bangkit menuju kamar mandi dan melakukan rutinitasnya setiap hari. Bangun, mandi, lalu berangkat ke kantor. Pukul enam dia sudah harus siap, paling telat setengah tujuh, atau akan terlambat.

Setelah memakai celana kerja dan kemeja marun lengan pendek, Bian keluar kamar dan menuruni tangga. Laki-laki itu menyapu pandangan. Tidak ada siapa-siapa. Sudah beberapa hari ini rumah terasa sunyi. Tari tidak kelihatan batang hidungnya. Saat Bian berangkat kantor, perempuan itu berada di kamarnya, saat pulang juga sama. Terasa ada yang lain.

Sebelumnya setiap hari Bian selalu melihat istrinya, walau hanya sebentar. Tapi sekarang ... tidak sama sekali. Laki-laki itu menarik napas pelan. Itu bukan urusannya, terserah perempuan itu mau melakukan apa. Malah bagus tidak harus melihat wajahnya, mengingat Bian masih menyalahkan Tari atas semua yang terjadi.

Bian ingat dengan jelas saat suatu hari Mama mengatakan akan mengenalkan anak temannya. Laki-laki itu menolak, karena dia sudah memiliki Sarah. Tapi karena Mama memaksa, akhirnya dia setuju. Niat awal hanya berkenalan, tidak lebih. Dia melakukan ini untuk membuat Mama senang.

Sudah satu tahun terakhir perempuan yang melahirkannya itu sakit dan bolak-balik ke rumah sakit. Diagnosa dokter menyatakan ada benjolan di payudara sebelah kanan dan Mama harus melakukan operasi pengangkatan payudara serta menjalani kemoterapi sesudahnya.

Bian sangat dekat dengan Mama, dia sedih sekaligus takut saat tahu penyakit mamanya. Takut kalau umur wanita itu tidak panjang. Dia berjanji akan melakukan apa saja kalau mamanya sembuh. Sialnya Mama malah menjodohkannya dengan perempuan yang tidak dicintainya.

Bian menolak dijodohkan, tapi Mama sangat kekeuh. Bahkan kesehatan mamanya sempat menurun karena sedih dan stres. Akhirnya Bian mengalah walau hatinya menolak. Dia setuju menikah dengan Tari, hanya demi mamanya. Sekarang dia hanya perlu bertahan selama sepuluh bulan untuk kemudian bercerai dengan Tari dan menikah dengan Sarah.

Laki-laki itu berjalan ke depan dan membuka pintu.

Di dalam kamar Tari mendengar suara pintu dibuka kemudian ditutup kembali. Setelahnya terdengar suara mobil. Suaminya sudah pergi. Dia meraih kerudung dan memakainya, lalu pelan membuka pintu dan melongok, melihat apakah benar Bian sudah pergi.

Tidak ada siapa-siapa. Tari bernapas lega dan kembali masuk ke kamar lalu membawa laptop-nya ke meja makan, tempat dia biasa bekerja.

Sudah hampir satu minggu dia mengikuti kesepakatan yang tertulis dan mengurus urusan masing-masing. Sebenarnya Tari tidak harus melakukan apa pun karena ada Bu Darmi yang mengurus semua. Wanita paruh baya itu biasa datang pukul delapan dan pulang saat pekerjaan selesai. Biasanya sekitar pukul dua siang.

Tari berusaha melupakan masalah dengan suaminya dan mulai fokus kembali mengurus pekerjaan. Sebulan ini banyak hal yang telantar akibat suasana hatinya sedang buruk. Siapa lagi penyebabnya kalau bukan Bian. Laki-laki itu sukses membuatnya sakit hati.

Tari menarik napas, berusaha menghilangkan kesal yang masih tersisa. Dia kemudian membuka Whatsapp Web di laptop, pagi ini ada jadwal mengisi materi di grup marketer Queen Sandwich. Sudah empat tahun perempuan itu memulai usahanya sendiri. Berawal dari iseng untuk sekadar menambah uang saku saat kuliah, sampai akhirnya cukup besar seperti sekarang.

Bian mengamati istrinya yang sedang tertawa lepas bersama Mama dan adiknya. Tidak pernah dia melihat Tari seperti itu, tertawa. Biasanya perempuan itu hanya tersenyum, itupun sudah tidak pernah dia lihat lagi, semenjak satu pekan yang lalu. Apakah Tari berpura-pura bahagia saat ini, atau sungguhan? tanyanya dalam hati.

Laki-laki itu teringat ketika mereka sampai di lobi hotel tadi, istrinya terlihat gugup.

"Kamu cemas?" tanya Bian melihat Tari yang sedari tadi menggigit bibir bawahnya.

"A-aku ... nggak." Jelas sekali suaranya terdengar bergetar.

"Jangan khawatir, jalankan saja sesuai rencana," ucap Bian. "Kita datang, makan, lalu pulang."

Tari menghela napas, berusaha meredakan debar di dada. Dia hanya tidak mau keluarga Bian kecewa padanya. "Bajuku udah oke, kan?"

Bian menatap istrinya dari atas ke bawah. Harus dia akui, Tari tampil beda malam ini, mungkin karena gamis baru yang dipakainya. Ketika dia melihat pertama kali, matanya sempat melebar sesaat. Cantik, batinnya. Padahal perempuan itu tidak memakai riasan yang berlebihan.

"Oke," jawab Bian.

Mereka masuk ke lift menuju restoran di hotel tersebut.

"Kamu siap?" tanya Bian.

Tari mengangguk. "Insya Allah." Dia tidak mungkin berbalik arah dan pulang.

"Here we go .... "

Pintu lift terbuka. Bian meraih tangan Tari dan menggenggamnya pelan.

"Senyum," perintah Bian pelan saat mereka masuk ke restoran.

Tari mencoba menarik kedua sudut bibir yang terasa kaku. Dia tidak pandai berpura-pura seperti ini. Apalagi sentuhan Bian pada telapaknya membuat hati berdesir halus dan dada berdebar pelan. Bagaimanapun laki-laki itu adalah suaminya, wajar bila dia merasakan hal semacam itu.

"Tenang saja," ujar Bian seraya meremas pelan tangan istrinya. Dia berharap semua akan baik-baik saja.

"Gimana kerjaan?" tanya Papa, membuat lamunan laki-laki itu buyar dan mengalihkan pandangan. Mereka duduk di sebuah meja bundar besar, cukup untuk sepuluh orang. Di sebelah Bian duduk istrinya, lalu Kinan, mamanya, papanya, lalu Om dan Tante dari pihak Mama dan Papa. Di meja lain ada sepupu dan keponakannya. Jumlah mereka kurang lebih dua puluh orang.

"Alhamdulillah, Pa," jawab Bian.

"Tari, gimana bisnisnya?" tanya Papa.

"Alhamdulillah, lancar, Pa," jawab Tari seraya tersenyum semringah.

"Papa mau dong sampelnya, siapa tahu bisa masuk ke supermarket," ucap Papa.

Mata Tari melebar tidak percaya. Papanya Bian pemilik supermarket yang cukup ternama di kota ini, cabangnya juga tersebar di beberapa kota lainnya. "Benaran, Pa?" tanya Tari masih belum yakin.

"Kenapa, kamu nggak percaya?" tanya Papa.

Tari menggeleng, tidak pernah bermimpi produknya terletak manis di dalam showcase frozen food salah satu supermarket besar.

Bian menatap istrinya penasaran, dia tidak tahu apa-apa tentang bisnis yang dijalani Tari, well, tidak peduli sebenarnya. Tapi dia menjadi tertarik saat papanya menawarkan kerjasama bisnis. Papa bukan orang yang mudah ketika berkaitan dengan bisnis. Usaha apa yang dilakukan perempuan itu saat ini? tanya Bian dalam hati.

"Udah, udah, jangan ngomongin bisnis di sini," sela Mama. "Biarkan Tari menikmati makanannya."

"Sekalian nggak apa-apa, ya, Tari?" ucap Papa jenaka.

Tari melakukan aksi diam selama lima hari, sejak kejadian Bian meninggalkannya begitu saja saat di mal. Suaminya sama sekali tidak meminta maaf, tidak juga merasa bersalah. Mereka tidak pernah bertatap muka. Dia di kamar saat Bian berangkat kerja, begitu pula saat pulang kerja. Sama seperti sebelumnya.

Tapi pesan WA yang dikirim Ami tadi siang membuat dia harus menemui suaminya malam ini. Tidak peduli Bian capek sehabis pulang dari bekerja.

"Kita harus membicarakan kembali kesepakatan pernikahan," ucap Tari yakin.

Bian menutup kuap dengan tangan. Lima belas menit yang lalu dia baru pulang kerja, istrinya sudah meminta waktu untuk bicara. Dia mengganti baju dan terpaksa menemui Tari di meja makan walau tubuh lelahnya meminta istirahat. "Kenapa? Kamu ingin menambah sesuatu?"

"Tentang kamu bertemu dengan perempuan itu."

"Sarah?" Bian memastikan.

Tari mengangguk.

"Kenapa memangnya?"

"Aku ingin kamu berhenti menemuinya."

"Maksudnya?"

Tari menarik napas, dia tahu ini akan sulit. "Aku ingin kamu berhenti menemuinya."

Bian menegakkan tubuh, dia sudah terjaga sepenuhnya. "Aku tidak bisa." Tari tidak berhak melarangnya menemui Sarah.


"Kenapa tidak bisa?"

"Kenapa harus?"

Tari menghela napas pelan. Dia tidak suka harus berdebat seperti ini, andai saja ada penyelesaian yang lebih mudah dan tidak menimbulkan konfrontasi .... "A-aku hanya tidak mau ada anggota keluarga yang melihat kalian jalan berdua," ungkap Tari dengan suara melunak.

"Tidak akan. Kami selalu berhati-hati," jawab Bian. Mereka berusaha menghindari tempat yang ramai. Biasanya lokasi bertemu cukup jauh dari tempat kerja atau rumah.

"Ami melihat kalian di mal daerah Bekasi," ungkap Tari berusaha menahan sakit saat mengucapkannya.

Mata Bian sempat melebar sesaat, tapi dia langsung mengendalikan diri. "Ami, temanmu?"

"Ami, sahabatku," ralat Tari.

"Apa akan menjadi masalah?" tanya Bian sedikit khawatir.

Tari menghela napas. Sebenarnya tidak masalah, karena Ami sudah tahu semuanya. "Bukan itu poinnya. Bagaimana kalau lain waktu kalian bertemu dengan Mama, Papa, Pakde, Bude, Kinan, atau Aldi? Atau bertemu orang lain yang tahu kalau kita suami istri? Tentu mereka bertanya-tanya apa yang kamu lakukan dengan perempuan itu."

"Aku akan mencari alasan," elak Bian.

Tari mendengus pelan. "Kamu tidak bisa selalu mencari alasan, pasti akan terbuka suatu saat."

"Jadi kamu maunya apa?" Bian mulai kesal.

Aku mau kamu berhenti menemui dia! seru Tari dalam hati. Tapi kalimat itu hanya berhenti di kerongkongan. "A-aku .... " Dia menarik napas panjang sebelum melanjutkan. "Aku tahu kita menikah karena dijodohkan. Kamu boleh merasa terpaksa menjalani pernikahan ini, tapi aku tidak.

"Saat Pakde dan Bude memberitahu tentang rencana pernikahan, aku menerima. Bagiku mereka adalah pengganti orangtua. Insya Allah pilihan mereka baik untukku." Tari memberi jeda. "Aku menjalani pernikahan dengan sungguh-sungguh karena ini adalah ibadah. Tidak pernah aku merasa terpaksa menjalaninya." Mata Tari mulai terasa hangat.

"Aku tidak peduli dengan kesepakatan pernikahan yang kamu buat. Tapi kamu harus tahu. Aku punya keluarga yang harus dijaga nama baiknya. Aku tidak mau keluarga Pakde dan Bude tahu tentang kondisi pernikahan kita sebenarnya. Aku tidak mau mereka menanggung malu karena menjadi gunjingan orang-orang." Tari menyeka air matanya yang jatuh.

Penasaran kisah selanjutnya? Segera beli di toko buku atau pesan Wedding Agreement ke Mia Chuzaimah :https://m.facebook.com/mia.chuzaimiah.5


Atau Bisa cek dalam cerita bersambung Wedding Agreement di Wattpad.

Wedding

Selasa, 11 Desember 2018

Ada 5 Hukum Pernikahan dalam Islam dari Kondisinya.

Selasa, Desember 11, 2018

Dalam Islam, seperti hal penting lainnya dalam kehidupan, diatur dalam agama. Dalam Al-Qur'an mengenai pernikahan disebutkan:

“…Maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak bisa berlaku adil maka kawinilah satu saja ”.(QS. An-Nisa’ : 3).

 “ Dan kawinilah orang-orang yang sendirian (janda) diantaramu, dan hamba sahaya laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan”.(Q.S. An-Nur : 32).

 Nabi Muhammad SAW juga menjelaskan dalam haditsnya:

 “Kawinlah kamu, karena sesungguhnya dengan kamu kawin, aku akan berlomba-lomba dengan umat-umat yang lain”.

Berdasarkan Al-qur’an dan As-sunnah, agama islam sangat menganjurkan kepada kaum muslimin yang sudah mampu untuk segera melangsungkan pernikahan. Para ulama ketika membahas tentang hukum pernikahan, mengatakan bahwa hukum pernikahan itu bersifat kondisional, yang artinya dapat berubah menurut situasi dan kondisi seseorang serta permasalahannya.

 Jika dilihat dari segi situasi, kondisi orang yang melaksanakan pernikahan, tujuan dari pernikahan dan permasalahannya, maka melaksanakan suatu pernikahan itu dapat dikenakan hukum wajib, sunnah, haram, makruh ataupun mubah. 

1. Hukum Pernikahan Yang Wajib

Menikah menjadi wajib hukumnya bagi seseorang jika ia dalam keadaan mampu secara finansial dan ia sangat beresiko masuk ke dalam perzinaan. Menjaga diri dari perbuatan zina adalah wajib, maka dari itu jalan keluarnya hanyalah dengan cara menikah.

 Abdullah bin Mas’ud berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW kepada kami :

“ Hai golongan orang-orang muda! Siapa-siapa dari kamu mampu berkawin, hendaklah dia berkawin, karena yang demikian lebih menundukkan pandangan mata dan lebih memelihara kemaluan, dan barang siapa tidak mampu, maka hendaklah ia bersaum, karena ia itu pengebiri bagimu”.

 Imam Al-Qurtubi berkata : “ Orang bujang yang sudah mampu kawin dan takut dirinya dan agamanya jadi rusak, sedang tidak ada jalan untuk menyelamatkan diri kecuali dengan kawin, maka tidak ada perselisihan pendapat tentang wajibnya dia kawin ”.

 Allah berfirman : “Hendaklah orang-orang yang tidak mampu kawin menjaga dirinya sehingga nanti Allah mencukupkan mereka dengan karunia-Nya” (QS. An-Nuur : 33).

2. Hukum Pernikahan Yang Sunnah

Menikah menjadi sunnah hukumnya bagi seseorang yang sudah mampu untuk melaksanakan pernikahan namun masih tidak merasa takut jatuh kepada perbuatan zina. Hal ini mungkin karena ia masih berusia muda dan lingkungan tempat tinggalnya baik, kondusif dan jauh dari pergaulan-pergaulan bebas. Sebenarnya jika dia menikah, tentu akan mendapatkan keutamaan yang lebih dibandingkan dengan dia tidak menikah. Paling tidak, dia telah melaksanakan anjuran Rasulullah SAW untuk memperbanyak jumlah umat Islam. Anas bin Malik RA berkata: bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“ Nikahilah wanita yang banyak anak, karena Aku berlomba dengan nabi lain pada hari kiamat “.

3. Hukum Pernikahan Yang Haram

Hukum pernikahan menjadi haram bagi seseorang jika ia tidak mampu memenuhi nafkah lahir dan batin kepada istrinya, serta nafsunya pun tidak mendesak.

Imam Al-Qurtubi berkata : “ Bila seorang laki-laki sadar tidak mampu membelanjai istrinya atau membayar maharnya atau memenuhi hak-hak istrinya, maka tidaklah boleh ia kawin, sebelum ia terus terang menjelaskan keadaannya kepada istrinya atau sampai datang saatnya ia mampu memenuhi hak-hak istrinya ”.

Allah berfirman : “…Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedalam kebinasaan dengan tanganmu sendiri…” (QS. Al-Baqarah : 195).

Selain itu ada beberapa hal lain yang membuat hukum pernikahan menjadi haram seperti, menikahi wanita pezina dan pelacur, wanita muslimah yang menikah dengan laki-laki yang berbeda agama atau atheis, menikahi wanita yang haram dinikahi (mahram), menikahi wanita yang punya suami dan wanita yang berada dalam masa iddah. Ada juga pernikahan yang tidak memenuhi syarat dan rukun seperti menikah tanpa wali atau tanpa saksi. Atau menikah dengan niat untuk mentalak, sehingga menjadi nikah untuk sementara waktu yang biasa disebut nikah kontrak.

4. Hukum Pernikahan Yang Makruh

Hukum pernikahan menjadi makruh bagi seseoang yang lemah syahwat dan tidak mampu memberi nafkah istri. Namun jika calon istrinya rela dan punya harta yang bisa mencukupi hidup mereka, maka masih diperbolehkan bagi mereka untuk menikah meski dengan karahiyah. Karena idealnya wanita bukanlah orang yang menanggung beban dan memberi nafkah suami.

5. Hukum Pernikahan Yang Mubah

Hukum pernikahan menjadi mubah atau boleh bagi seseorang jika ia berada pada posisi tengah-tengah antara hal-hal yang mendorong keharusannya untuk menikah dengan hal-hal yang mencegahnya untuk menikah. Dalam hal ini orang tersebut tidak dianjurkan untuk segera menikah, namun juga tidak ada larangan untuk mengakhirkannya. Demikianlah penjelasan lengkap mengenai hukum-hukum pernikahan dalam islam. Semoga bermanfaat dan semoga yang belum bertemu dengan jodohnya, maka segera dipertemukan.